Hari minggu kmrn kami menghadiri salah satu adat batak bernama "mamio". Secara harafiah, mamio artinya adalah memanggil. Dalam adat batak, mamio artinya : Memanggil 2 org yg baru saja mengikat janji pernikahan utk diperkenalkan kepada keluarga besar sekaligus memberi nasehat2 kepada sang pengantin baru. Dalam cerita ini, pengantin barunya (Yg pria) adalah sepupu suami saya.
Hari itu, acara mamio dihadiri oleh keluarga terdekat saja seperti inang tua (kakaknya mama), inanguda (adiknya mama), opung (nenek), kakak dan sepupu2 si mempelai pria. Kurang lebih ada 8 keluarga tadi. Acara mamio dimulai dengan berdoa, makan bersama, bersenda gurau, perkenalan keluarga besar (khususnya untuk mempelai wanita sebagai anggota keluarga baru) dan diakhiri dengan memberikan nasehat2 kepada pengantin baru.
Ketika tiba giliran saya untuk memberi nasehat, sebagai org yg baru 2 tahun menikah, saya rangkum pelajaran yg saya dapat dalam 3 hal. 3 hal yg saya bagikan ke mereka sebenarnya bagai pedang bermata 2. Tajam utk mereka sekaligus untuk saya. Saya membagikan 3 hal ini bukan karena saya sudah lulus mempraktekkannya. Tp Justru krn masih dalam proses belajar yg ntah kapan lulusnya. So, here they are :
1. Siapapun yg berumah tangga pasti tau betapa kita membutuhkan Tuhan dalam rumah tangga. Saya terlalu percaya bahwa 2 org yg telah diikat janji dalam pernikahan pasti ada campur tangan Tuhan dalamnya. Dari sekian banyak wanita, saya yg terpilih menjadi penolong yg sepadan utk suami saya. Demikian sebaliknya. Dari sekian banyak pria, dia yg terpilih menjadi imam saya. Pasti Tuhan punya rencana yg terbaik dengan pilihan Nya itu. So, sepanjang hidup pernikahan, jangan pernah lelah mencari apa rencana Tuhan yg terbaik itu. Bagaikan harta karun yg tersimpan, semakin susah mencarinya pasti semakin istimewa. Dan dalam proses pencarian, libatkan Tuhan. Kalo gak, kita pasti akan tersesat dan bisa jadi menyerah. Saya merasakan, ketika keadaan terasa sulit, saya bertanya "apa yg Kau inginkan utk kupelajari Tuhan?", maka hati saya akan terasa lebih ringan dalam menjalani masalah tersebut. Saya percaya bahwa rumah tangga adalah sekolah terbaik utk membentuk kita menjadi seperti yg Tuhan inginkan.
2. Pagi ini, kotbah di gereja (GKI Serpong) bertemakan "komunikasi dalam keluarga". Kebetulan, bulan oktober ini adalah bulan keluarga. Yg membuat saya merenung adalah saat pendetanya bilang "sering kali kita mendengar tapi sebenarnya kita tidak mendengarkan". 2 org yg menikah berasal dari 2 keluarga yg berbeda, 2 kebiasaan yg berbeda, 2 nilai kehidupan yg berbeda, 2 prinsip yg berbeda, dan banyak perbedaan lainnya. Yg membuat kita sulit mendengarkan pasangan kita adalah ketika kita hanya terfokus pada konsep berfikir kita. Sebesar apapun usaha pasangan kita untuk menjelaskan, gak akan bisa kita dengarkan kalo kita tidak mengosongkan konsep yg ada di pikiran kita dan merendahkan diri utk benar2 mendengarkan dan merasakan dia.
3. Kehidupan pernikahan bagaikan rollercoaster. Ada kalanya mendaki tp ada juga kalanya menukik tajam. Ada kalanya kita ingin teriak krn merasa takut, tp ada juga kalanya kita teriak krn merasa seru. Ada kalanya kita deg2an tp ada juga kalanya kita merasa lega. Ketika mengendarai rollercoaster dgn segala sensasinya, pilihan kita ada 2 : menikmatinya atau mengeluhkannya. Bila kita mengeluhkannya, kita bisa meminta operator utk menghentikan permainan. Pilihan ada pada kita. Tp saya rasa, pilihan yg bijak adalah menikmatinya hingga permainan benar2 selesai. Dan ketika selesai, biarkan sensasi kepuasan merambati kita. Kita berhak puas, karena gak semua org berani menaikinya dan gak semua org yg menaikinya juga bisa menikmatinya. Sama hal nya dengan pernikahan. Kala bahagia, dipenuhi cinta, seru, ingin teriak, marah, kesal, sedih, nikmatilah. Karena mungkin kita adalah segelintir org yg terpilih bisa mengakhiri "rollercoaster hidup" ini dengan baik.
Semua keluarga yg menghadiri acara mamio tadi dan memberikan nasehat, setuju bahwa belum ada yg lulus dalam belajar berumah tangga sebelum kematian memisahkan. Kelulusan dalam berumah tangga tidak dinilai dari lamanya kita telah berumah tangga atau seberapa banyak kesuksesan yg kita peroleh. Tapi apakah kita berhasil bertahan hingga dipisahkan oleh kematian atau tidak. Karena apa yg telah dipersatukan oleh Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia. Hanya kematian yg bisa.
Kiranya (at least) 3 hal itu bisa selalu jadi bahan renungan saya selama berumah tangga. Tuhan menolong saya.











